Parasitology


Parasitologi mempelajari parasit, inangnya, dan hubungan di antara keduanya. Dengan kata lain ilmu yang mempelajari parasitisme.
Parasitisme : Hubungan timbal balik suatu spesies dengan spesies lain untuk hidup, satu jasad mendapat makanan / perlindungan, jasad lain dirugikan / dibunuh.
Parasitologi merupakan salah satu bidang studi biologi.
Parasitologi kedokteran : Salah satu bidang terbesar parasitologi, adalah studi sejumlah parasit yang menginfeksi manusia. Beberapa contoh : :
Plasmodium spp., organisme uniseluler yang menyebabkan malaria. 4 subtipe malaria adalah Plasmodium falciparum, P. malariae, P. vivax dan P. ovale.
Leishmania donovani, organisme uniseluler yang menyebabkan leishmaniasis organisme multiseluler jenis cacing seperti Schistosoma spp, Wuchereria bancrofti dan Necator americanus

Hospes = Induk semang / inang
Hospes Definitif : Parasit tumbuh & berkembang biak secara seksual
Hospes Perantara : Parasit tumbuh bentuk infektif siap ditularkan
Hospes Reservoar : Hewan yg mengandung parasit & sumber infeksi bagi manusia
Vektor : serangga penular penyakit

PARASITOS, juga dapat berarti : Jasad yg mengambil makanan, misal :
Zooparasit Protozoa = bersel satu (Protozoologi)
Metazoa Helminthes (Helminthologi)
Artropoda (Entomologi )
Fitoparasit
Bakteri
Fungus
Spirochaeta
Virus

Entamoeba histolytica


SEJARAH :
Losch, di Rusia (1875), ditemukan pada tinja seseorang yang terkena disentri. Organisme ini ditemukan di ulkus usus besar manusia.

Distribusi Geografik :
terdapat di seluruh dunia lebih sering di daerah Tropis ataupun Subtropis pada sanitasi lingkungan yang buruk
MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP :
memperbanyak diri di usus besar, dari sebuah kista berkembang menjadi 8 trofozoit apabila tinja dalam usus besar padat, maka trofozoit menjadi kista & dikeluarkan bersama tinja, sementara apabila cair , pembentukan kista akan terjadi di luar tubuh.
Stadium Entamoeba histolytica :
Bentuk histolytika
Bentuk minuta
Bentuk kista.
Bentuk Histolitika :
Bentuk histolitika & minuta disebut trofozit. Histolika bersifat patogen & lebih besar dari minuta. Bentuk histolitika = 20 - 40 mikron, inti terdapat di dalam endoplasma. Bentuk histolitika ini dapat hidup dijaringan Usus besar, Hati, Paru, Otak, Kulit, & Vagina.
Bentuk Minuta :
adalah bentuk pokok ,tanpa bentuk minuta daur hidup tidak dapat berlangsung. Bentuk minuta = 10 - 20 mikron. Inti terdapat di endoplasma yang berbutir-butir.
Bentuk Kista :
dibentuk di rongga usus besar. bentuk kista = 10 - 20 mikron, berbentuk Bulat atau Lonjong, memiliki dinding kista & ada inti entameba. bentuk kista ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.
GEJALA KLINIS
Amoebiasis Intestinal Sering tanpa gejala, tidak enak perut yang samar-samar Infeksi menahun dapat menimbulkan kolon yang irritable dan menurunnya berat badan. Amoebiasis Ekstra-Intestinalis terbanyak : amoebiasis hati, berupa abses hati disebabkan metastasis dari mukosa usus melalui aliran sistem portal. gejala: Demam berulang, disertai menggigil, sering ada rasa sakit di bahu kanan. Abses ini dapat meluas ke paru-paru disertai batuk & nyeri tekan Intercostal, dengan demam dan menggigil.
DIAGNOSA
Amoebiasis Kolon Akut
sindrom disentri disertai sakit perut (mules). Biasanya gejala diare.
Diagnosa : menemukan E.histolytica dalam tinja. Jika amoeba tidak ditemukan, pemeriksaan tinja perlu diulangi 3 hari berturut-turut. Reaksi serologi perlu dilakukan untuk menunjang diagnosis.
Amoebiasis Hati Berat Badan menurun, Badan terasa lemah, Demam, Tidak nafsu makan disertai pembesaran hati.
Radiologi : biasanya terdapat peninggian diagfragma.
CT scan : gambaran abses
Diagnosis : menemukan E.histolytica. Bila tidak ditemukan, perlu dilakukan pemeriksaan serologik.
TERAPI :
1. Metronidazole (obat pilihan utama) dewasa 2 gr / hari selama 3 hari
2. Emetin hidroklorida dewasa 65 mg / hari, anak dibawah 8 th 10 mg / hari, lama 4-6 hari
3. Klorokuin dewasa 1 gr / hari slm 2 hr, kemudian 500 mg sehari slm 2-3 minggu
4. Antibiotika : Tetrasiklin
PENCEGAHAN :
Mencuci tangan
Menghindari penggunaan handuk / kain wajah untuk bersama-sama
Minum air yang sudah dimasak
Mencuci sayuran/memasaknya sebelum dimakan.
Menutup dengan baik makanan yang dihidangkan.
Tidak menggunakan tinja manusia untuk pupuk.

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan/sample dari penderita, dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), atau sample dari hasil biopsy Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk berbagai tujuan :

Skrining / uji saring adanya penyakit subklinis
Konfirmasi pasti diagnosis
Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis
Membantu pemantauan pengobatan
Menyediakan informasi prognostic /perjalanan penyakit
Memantau perkembangan penyakit
Mengetahui ada tidaknya kelainan/penyakit yang banyak dijumpai dan potensial membahayakan
Memberi ketenangan baik pada pasien maupun klinisi karena tidak didapati penyakit

Hasil pemeriksaan laboratorium ditentukan oleh beberapa factor, antara lain :
Faktor Pra instrumentasi : sebelum dilakukan pemeriksaan.
Faktor Instrumentasi : saat pemeriksaan ( analisa ) sample.
Faktor Pasca instrumentasi : saat penulisan hasil pemeriksaan.

Di antara ketiga factor tersebut, factor pra instrumentasi merupakan tahap yang sangat penting yang memerlukan kerjasama antara petugas , pasien dan dokter. Hal ini karena tanpa kerjasama yang baik akan mengganggu /mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi :
Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
Persiapan penderita Persiapan alat yang akan dipakai
Cara pengambilan sample Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) & transportasi.

http://berbagi-sehat.com/article/19884/pemeriksaan-laboratorium.html

Hasil Pemeriksaan di Laboratorium bisa Berbeda

SEORANG pasien mengeluhkan hasil pemeriksaan darahnya berbeda di dua laboratorium. Yang satu menunjukkan tidak ada masalah, sedangkan laboratorium satunya dalam kasus sama menyatakan ada indikasi kesehatannya terganggu. Ia kebingungan hasil yang mana sebaiknya dijadikan pedoman. “Hasil pemeriksaan masing-masing laboratorium kadang tidak sama. Tiap laboratorium tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lainnya, karena banyak faktor memengaruhinya. Hal ini tidak menjamin hasil yang diberikan laboratorium tersebut tidak akurat,” ujar Brand Manager Prodia Bali Anton, E. S.Si, Apt.

Ia menyebutkan, kondisi pasien sangat berpengaruh mengakibatkan hasil pemeriksaan berbeda. “Waktu puasa, aktivitas sebelum pemeriksaan, dan obat yang dikonsumsi pasien juga berpengaruh,” ujarnya.

Ia menambahkan, alat yang digunakan, dan reagen yang digunakan juga dapat berpengaruh. Kondisi ruangan tempat penyimpanan alat juga bisa berpengaruh, termasuk bagaimana suhu udaranya, atau air yang digunakan alat tersebut. Selain itu, kondisi sampel dan saat pengambilan sampel, juga berpengaruh Sementara Business Director Laboratorium Quantum Sarana Medik Ketut Sumantra menyatakan, semua laboratorium berupaya memberikan kualitas pemeriksaan yang terbaik, tergantung warga masyarakat memilih laboratorium yang mana. Hasil pemeriksaan laboratorium yang berbeda tidak dapat dijadikan ukuran kinerja laboratorium tersebut kurang baik.
Ia berpandangan, dengan bermodalkan sertifikat ISO 9001 dan akreditasi tidak mungkin laboratorium bertindak sembarangan. “Pemberian sertifkat ISO dilakukan tim yang memang benar-benar menilai sesuai standar pelayanan mutu laboratorium. ISO adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi sistem manajemen mutu. Sertifikasi mutu ini menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktivitas rutin perusahaan untuk terciptanya konsistensi mencapai kepuasan pelanggan,” paparnya.

Manajer Pemeriksaan Laboratorium Quantum Trisno Wahyu Hutomo menambahkan, perbedaan hasil antara laboratorium satu dan yang lain dalam kasus sama disebabkan banyak faktor. Namun, kata Trisno, perbedaan tidak terlalu signifikan. Ia menyatakan, bisa saja penyebabnya karena kondisi pasien yang bersangkutan. Contoh, pasien yang puasa 7-8 jam hasilnya berbeda dengan puasa 10-12 jam. Belum lagi metode pemeriksaan yang berbeda. Pemeriksaan glukosa, misalnya. Metode pemeriksaan yang satu dengan metode lainnya tentu memberikan hasil yang berbeda. Sampel diambil pada waktu yang berbeda, juga dapat memengaruhi hasil. Mesin berbeda, hasil juga berbeda. Cara manual dan otomatis memunyai ketelitian dan ketepatan (presisi dan akurasi) yang berbeda pula.Ia menegaskan, banyak faktor penyebab pemeriksaan laboratorium dalam kasus sama memberikan hasil yang berbeda sehingga perbedaan tidak bisa langsung dijadikan tolok ukur laboratorium tersebut standarnya kurang baik. “Waktu pengambilan sampel terdapat variasi dari hari ke hari bahkan pagi dan sore dapat berbeda. Jika ingin membandingkan satu laboratorium dengan yang lain, harus menggunakan satu sampel. Kemudian sampel tersebut diurai, itulah yang diperiksa bersamaan oleh kedua laboratorium. Orang yang sama saja, tanda tangannya juga bisa beda,” kata Trisno.
Tiga ProsesAnton menjelaskan, sistem manajemen mutu yang baik selalu dikedepankan laboratorium Prodia. “Kami menerapkan tiga proses dalam pemeriksaan sampel, yakni preanalitik, analitik, dan posanalitik. Mulai dari pasien datang, kemudian diambil sampelnya, sampai pada pengontrolan akhir hasil sebelum diserahkan ke pasien. Hasil akhir dilakukan quality validator untuk meyakinkan apakah hasilnya sudah layak diberikan ke pasien,” ujar Anton. Untuk menjaga keakuratan hasil, katanya, selain menggunakan alat dalam kondisi baik, pemeriksaan alat dilakukan tiap hari sebelum pengecekan sampel. Selain itu, kata Anton, sumber daya manusia selalu ditingkatkan dengan pelatihan rutin. “Kami menerapkan buddy system. Artinya, tiap staf memilki satu buddy yang bertanggung jawab terhadap juniornya,” ujar Anton.

Selama ini, Prodia melayani semua pemeriksaan kesehatan lengkap darah, urin, dan kotoran. Selain itu, melayani USG, treatmill, EKG untuk jantung, pemeriksaan fisik oleh dokter dan konsultasi gizi.Anton mengatakan, untuk pemeriksaan laboratorium biasanya pasien membawa surat pengantar dari dokter. Prodia melayani sesuai permintaan dokter yang merujuknya. Sedangkan untuk orang yang sehat, mereka biasanya datang sendiri melakukan general check up. “Sampai saat ini, kunjungan konsumen ke Laboratorium Prodia terus meningkat. Dari tahun 2008 hingga 2010 terjadi peningkatkan sekitar 20%. Sedangkan untuk pemeriksaan laboratorium, klasifikasi penyakitnya hampir sama. Kami melayani semua pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.

Anton menyatakan, dengan misi diagnosa lebih baik dengan layanan sepenuh hati, Prodia berusaha memberi hasil yang optimal.“Pelayanan yang baik dengan pemeriksaan yang akurat sesuai standar pelayanan dalam ISO juga telah kami lakukan. Sertikasi ini juga terus dipantau, apakah kami menjalankannya dengan baik atau tidak dan mampu mempertahankannya,” kata Trisno. Ketut Sumantra menambahkan, Quantum menggunakan alat modern yang terkini dengan sumber daya manusia yang terlatih. “Untuk meningkatkan kualitas SDM kami sering mengadakan house in training dan pelatihan ke luar. Sedangkan untuk alat, tiap lima tahun kami ganti dengan metode baru,” jelasnya.

Sumantra menyebutkan, kunjungan pasien ke laboratorium Quantum tiap tahunnya meningkat sekitar 15%. Permintaan yang paling banyak pemeriksaan trombosit demam berdarah. Quantum mempunyai unggulan pemeriksaan VCR (biomolekuler). Pemeriksaan ini biasanya untuk mengetahui virus hepatitis A,B,C. Quantum juga melayani pemeriksaan pertanda HIV/AIDS. Ia mengatakan, ada 10 agen kapal pesiar yang sudah bekerja sama hampir 15 tahun dalam pelayanan tes kesehatan karyawan baru yang akan berangkat ke kapal. “Setelah karyawan dicek kesehatannya di Quantum, sampai di kapal dilakukan cek ulang untuk memastikan kondisi mereka. Kalau hasil yang kami berikan berbeda, mereka tidak lagi bekerja sama dengan kami,” tandas Sumantra..

http://www.cybertokoh.com/

Teliti Rekening Rumah Sakit Sebelum Pulang


Rekening rumah sakit anda terlalu tinggi? Anda kaget melihat nilai tagihannya?. Tak usah terkesima, cobalah baca rincian tagihan yang dilampirkan. Siapa tahu ada tagihan yang tidak wajar yang bisa mengurangi nilai tagihan anda.
Pada rincian tagihan rekening rumah sakit biasanya tertera sewa kamar, nama obat dan jumlah harga obat yang diberikan, tindakan medis yang dilakukan, hingga peralatan kecil yang digunakan untuk keperluan si sakit. Apakah anda memang menggunakan semua yang tertera di rincian tagihan? Banyak pasien pasrah saja membayar rekening yang ditagihkan tanpa meneliti rincian tersebut, entah karena percaya tidak mungkin rumah sakit berbuat salah, atau tidak mengerti apa-apa yang tertera di rincian tagihan. Benarkah sikap demikian? Apakah setiap tagihan rumah sakit benar adanya?
Tagihan Rumah Sakit bisa saja salah.
Rabu 26 Maret 2008, seseorang menulis surat pembaca di Harian Kompas. Ia menceritakan pengalamannya setelah dirawat di sebuah Rumah Sakit swasta. Tagihan yang diberikan oleh pihak rumah sakit, setelah ia menjalani operasi usus buntu, jauh diluar perkiraannya. Sebelum di operasi, berdasarkan estimasi dari rumah sakit, total biaya yang bakal dibayarnya hanya sekitar 6 juta rupiah. Namun rekening tagihan nilainya lebih 17 juta rupiah. Rasa penasaran membuatnya meneliti dan mempelajari rincian tagihan rumah sakit tersebut, walau tak semua istilah yang tertera ia mengerti. Karena merasa ada yang tidak beres, ia meminta pihak rumah sakit untuk menghitung kembali tagihan tersebut.
Rasa curiganya ternyata beralasan. Setelah pihak rumah sakit menghitung kembali, besarnya tagihan turun sekitar 6 juta rupiah. Menurut pihak rumah sakit ada koreksi untuk penggunaan suatu alat (LMA pro seal). Pembebanan untuk alat tersebut ternyata 40 kali lebih besar dari seharusnya.
Hal yang disampaikan oleh pembuat surat pembaca tersebut menyadarkan banyak orang bahwa sikap waspada dan kritis terhadap tagihan perlu dimiliki apabila kita dirawat di rumah sakit. Kesalahan tak sengaja, dan kadang-kadang dicurigai disengaja, bisa saja terjadi pada pasien yang dirawat rumah sakit dimanapun berada, walau tagihan tersebut berasal dari sistem komputerisasi yang canggih sekalipun. Bukan di Indonesia saja hal tersebut sering terjadi. Di Amerika Serikat yang sistem administrasi kesehatannya jauh lebih maju, sering terjadi tagihan rumah sakit lebih tinggi dari seharusnya ( over charge). Malah di sana sampai ada layanan jasa yang membantu pasien-pasien yang tidak dicakup sistem asuransi kesehatan untuk meneliti kebenaran tagihan tinggi rumah sakit, seperti Hospital Bill Auditing . Lembaga tersebut menganalisa apakah tidak terjadi overcharge dari tagihan yang diberikan, untuk selanjutnya meminta rumah sakit menarik kembali biaya tak wajar yang muncul. Jasa tersebut dibutuhkan karena tidak semua orang paham membaca istilah medis yang ada dalam rincian tagihan.
Berdasarkan kejadian yang pernah terjadi, over charge atau penagihan berlebihan dapat muncul dari kesalahan seperti contoh berikut:

-Pasien ditagih obat dan peralatan medis yang tidak pernah diterimanya. Hal ini bisa terjadi karena salah pembebanan.
-Tagihan untuk orang lain masuk ke rincian penagihan yang diterima
-Pasien ditagih biaya obat yang berlebihan. Misalnya pasien menggunakan 5 ampul obat suntik selama perawatan, pada rincian muncul 7 ampul.
-Seharusnya harga obat menggunakan harga satuan terkecil, yang muncul ditagihan harga kemasan terbesar (harga 1 tablet diisi harga 1 box @ 100 tablet)
-Pasien ditagihkan biaya pemeriksaan laboratorium yang berlebihan. Misalnya pemeriksaan HbsAg dilakukan 1 kali, tapi pada lembar tagihan muncul dua atau tiga kali.
-Pasien menerima obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya.
-Pasien menerima tagihan pemeriksaan/ tindakan yang pernah direncanakan tetapi belum/ tidak jadi dilaksanakan.

Banyak rumah sakit telah melakukan langkah-langkah penertiban administrasi dan sistem untuk mencegah terjadinya kesalahan penagihan seperti di atas. Namun tak ada salahnya kita meneliti setiap tagihan sebelum membayar, mengingat petugas rumah sakit juga manusia, yang tak mungkin lepas dari kesalahan manusiawi.

( Azril Kimin )

Rekayasa Penelitian Medis: Dari Dokter Panutan ke Penjara

Oleh Azril Kimin


Dalam dunia penuh keterbukaan ini, jangan coba-coba menulis karya ilmiah serampangan – bisa-bisa penjara ganjarannya. Hidup dalam penjara agaknya akan dijalani Dr. Scott S. Reuben, mantan Kepala Unit Nyeri Akut Bay State Hospital di Springfield, Massachusets, yang kini tengah menjalani proses hukum di pengadilan federal AS. Menurut Boston Globes (15 Januari 2010), Dr. Scott S. Reuben diperkirakan akan menjalani hukuman 10 tahun penjara serta denda 250 ribu US dolar ditambah menyerahkan ke pengadilan 50 ribu US dolar yang pernah diterimanya dari pabrik farmasi. Di pengadilan, dokter Dr. Scott S. Reuben mengaku telah menerima dana dari pabrik-pabrik farmasi untuk penelitian obat-obat nyeri - tetapi tidak melakukan penelitian sebagaimana seharusnya. Hasil penelitian yang dilaporkannya ( juga dipublikasikan pada banyak jurnal kedokteran terkemuka dunia) ternyata merupakan hasil rekayasa.
Tulisan-tulisan Dr. Scott S. Reuben di banyak jurnal medis terkemuka dunia dianggap menyesatkan. Ilmuwan tersebut dianggap penipu karena telah memberikan banyak informasi yang membahayakan kesehatan lewat artikel ilmiahnya yang bertebaran di banyak jurnal kedokteran terkemuka. Dr. Reuben menuliskan artikel ilmiah yang memuji kehebatan obat yang ditelitinya dan mengecilkan efek sampingnya – padahal penelitian tersebut rekayasa belaka (hanya untuk menyenangkan pabrik sponsor). Karena dianggap sebagai dokter pakar/ panutan – ratusan dokter dibelahan bumi ini mengikuti rekomendasi metode pengobatan yang ditulisnya. Malangnya lagi, obat yang dipuji-puji tersebut telah menimbulkan celaka banyak orang karena beratnya efek samping. Vioxx and Bextra dari kelompok Cox-2 inhibitors adalah obat yang direkomendasikannya. Kedua obat tersebut kini dilarang beredar karena terdapat bukti meningkatnya serangan jantung, stroke hingga kematian pada pasien-pasien penggunanya. Majalah Scientific American menggelari dr. Scott Reuben sebagai Madoff dunia kesehatan karena selama 12 tahun berhasil mengelabui kalangan medis internasional. (Bernie Madoff adalah mantan direktur Nasdaq yang dikenal sebagai pakar ekonomi dunia, tapi belakangan terbukti sebagai penipu yang telah membangkrutkan ribuan perusahaan investasi dan individu dunia. Pada 22 Juni 2009 Madoff dijatuhi hukuman kumulatif 150 tahun penjara oleh pengadilan AS) Sebelum namanya tercemar, Dr. Scott Reuben, dikenal sebagai pakar multimodal analgesia, suatu metode pengobatan yang mengkombinasikan beberapa obat penghalang rasa nyeri pasien pasca operasi dan lebih mempercepat kesembuhannya. Dr. Scott Reuben dari Massachusets, pakar anestesiologi kelas dunia itu telah menyemarakkan seminar ilmiah dan jurnal-jurnal ilmiah kedokteran AS dan Eropah selama belasan tahun. Karena keahliannya disegani, rekomendasi yang ditulisnya di majalah kedokteran terkemuka dunia tentang kehebatan suatu obat baru, dipercaya para dokter lain sehingga lahirlah ribuan resep yang mengacu pola hasil penelitiannya – yang tentu saja menguntungkan pabrik yang memproduksi obat baru tersebut. Salah satu anjuran nya adalah “prosedur “ pemberian kombinasi Lyrica dan Celebrex pada pasien pasca operasi. Anjuran lainnya menganjurkan pemberian effexor untuk menghilangkan rasa sakit – padahal obat tersebut menurut FDA hanya diindikasikan sebagai antidepressant. Di samping itu, Dr. Ruben dikenal aktif melayangkan surat ke FDA, meminta FDA untuk tidak menghambat/ melarang obat-obat yang telah ditelitinya, sambil melampirkan data-data penelitiannya yang palsu tersebut.

Di bawah kami kutipkan 21 artikel ilmiah Dr. Scott Reuben yang dipermasalahkan kebenarannya.
klik gambar untuk memperbesar